Edgecore Networks, penyedia solusi open networking terkemuka, bersama mitranya Deca Consulting, secara resmi mengumumkan keberhasilan transformasi infrastruktur data center milik IPNexia. Transformasi ini dilakukan dengan mengadopsi arsitektur modern spine-leaf berbasis SONiC yang otomatis, berperforma tinggi, dan siap menghadapi kebutuhan masa depan. Peningkatan infrastruktur ini memungkinkan IPNexia untuk menyediakan layanan yang lebih cepat, stabil, dan mudah dikembangkan bagi lebih dari 3.000 pelanggan enterprise di seluruh Belgia. Dengan solusi baru ini, IPNexia kini memiliki fondasi data center yang kuat untuk mendukung pertumbuhan bisnis jangka panjang. Latar Belakang IPNexia IPNexia dikenal sebagai salah satu perusahaan pionir di Belgia yang menyebut dirinya sebagai “Integroperator”. Istilah ini menggambarkan kombinasi keahlian sebagai operator telekomunikasi dengan kemampuan integrator teknologi informasi dan komunikasi (ICT). IPNexia menyediakan berbagai layanan penting untuk perusahaan, seperti konektivitas enterprise, VoIP, dan layanan cloud. Namun, seiring pertumbuhan pelanggan dan meningkatnya kebutuhan bandwidth serta keandalan layanan, infrastruktur data center lama mulai menunjukkan keterbatasannya. Tantangan yang Dihadapi Sebelum transformasi dilakukan, IPNexia menghadapi beberapa tantangan utama, di antaranya: Perangkat keras yang sudah menua dan mendekati akhir masa dukungan, sehingga berisiko terhadap keamanan dan stabilitas sistem. Ketergantungan pada satu vendor (vendor lock-in) yang membatasi fleksibilitas dalam memilih teknologi dan mengatur biaya. Keterbatasan skalabilitas, sehingga sulit untuk menyesuaikan kapasitas jaringan dengan pertumbuhan kebutuhan pelanggan. Kurangnya otomasi, yang membuat proses deployment dan konfigurasi jaringan memakan waktu lama dan rentan kesalahan. Untuk mengatasi masalah ini, IPNexia membutuhkan solusi yang tidak hanya kuat, tetapi juga terbuka, fleksibel, dan mudah dikelola. Solusi: Arsitektur Spine-Leaf Berbasis SONiC Melalui kerja sama erat dengan Deca Consulting dan Edgecore Networks, IPNexia mengganti jaringan backbone lamanya dengan infrastruktur data center yang modern, terbuka, dan sepenuhnya otomatis. Solusi utama yang diterapkan meliputi: 1. Arsitektur Spine-Leaf Modern Desain spine-leaf ini menggunakan fabric 100G non-blocking, yang mampu memberikan performa jaringan dengan latensi rendah dan stabil. Arsitektur ini juga menghilangkan bottleneck yang biasanya muncul pada desain jaringan tradisional, sekaligus memungkinkan ekspansi horizontal secara mudah. 2. Open Networking dengan SONiC IPNexia menggunakan Edgecore Enterprise Switches yang menjalankan Enterprise SONiC berbasis Broadcom. Pendekatan open networking ini memberikan stabilitas kelas enterprise sekaligus menghilangkan ketergantungan pada satu vendor. IPNexia kini memiliki kebebasan untuk beradaptasi dengan kebutuhan bisnis yang terus berkembang. 3. Operasional Berbasis Otomasi Dengan pendekatan automation-first, waktu deployment jaringan dapat dipangkas secara drastis. Teknologi Zero Touch Provisioning (ZTP) memungkinkan perangkat baru dikonfigurasi secara otomatis tanpa proses manual. Selain itu, integrasi NetBox dan Ansible memungkinkan pengelolaan jaringan berbasis Infrastructure-as-Code dengan konfigurasi yang terdokumentasi dan terkontrol versi. 4. Infrastruktur yang Siap Masa Depan Solusi ini dirancang untuk mendukung layanan multi-tenant, aplikasi dengan kebutuhan bandwidth tinggi, serta ekspansi di masa depan tanpa mengganggu layanan yang sedang berjalan. Peran Strategis Deca Consulting Sebagai mitra utama dalam proyek ini, Deca Consulting berperan penting dalam keseluruhan proses transformasi. Mulai dari perancangan arsitektur, implementasi teknis, hingga transfer pengetahuan kepada tim IPNexia, Deca Consulting memastikan solusi yang diterapkan dapat dikelola secara mandiri dan berkelanjutan. Kolaborasi ini membantu IPNexia membangun fondasi teknologi yang kuat untuk mendukung pertumbuhan bisnis jangka panjang. Hasil dan Dampak Transformasi Dengan selesainya proyek ini, IPNexia kini memiliki: Jaringan data center berperforma tinggi dengan latensi rendah Infrastruktur yang mudah dikembangkan tanpa redesign besar Operasional yang lebih efisien berkat otomasi Kebebasan dari vendor lock-in Fondasi teknologi yang siap mendukung inovasi di masa depan Kolaborasi antara IPNexia, Deca Consulting, dan Edgecore Networks menjadi contoh nyata bagaimana solusi open networking dapat membantu organisasi memodernisasi infrastruktur, meningkatkan efisiensi, dan menghadapi tantangan digital dengan lebih percaya diri. Tentang Edgecore Networks Edgecore Networks Corporation adalah anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Accton Technology Corporation dan dikenal sebagai penyedia solusi open infrastructure terkemuka di dunia. Edgecore menyediakan berbagai produk jaringan kabel dan nirkabel melalui mitra dan system integrator global. Solusi Edgecore digunakan oleh berbagai segmen, mulai dari AI/ML, Cloud Data Center, Service Provider, Enterprise, hingga SMB. Selain jaringan, Edgecore juga terus memperluas portofolionya ke open compute solutions, untuk menghadirkan infrastruktur terintegrasi yang sesuai dengan kebutuhan data center modern. Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan edge core indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi edgecore.ilogoindonesia.id untuk informasi lebih lanjut!
Category: Blog
IPNexia Meningkatkan Infrastruktur Data Center dengan Edgecore Networks dan Deca Consulting
Sejak pertama kali berdiri, IPNexia dikenal sebagai perusahaan inovatif yang menyebut dirinya sebagai “Integroperator”. Artinya, IPNexia menggabungkan keahlian sebagai operator telekomunikasi dengan kelincahan sebuah integrator teknologi informasi dan komunikasi (ICT). Berbasis di Diegem, wilayah Brussels, Belgia, IPNexia tidak hanya menyediakan konektivitas, tetapi juga solusi komunikasi terpadu untuk pasar bisnis (B2B). Layanan utama IPNexia mencakup VoIP, konektivitas enterprise, dan layanan cloud. Dengan lebih dari 3.000 pelanggan perusahaan di seluruh Belgia, IPNexia berfokus pada kualitas layanan, keandalan teknologi, dan hubungan jangka panjang dengan pelanggan. Bagi IPNexia, pelanggan adalah inti dari bisnis mereka. Mulai dari audit telekomunikasi awal, perancangan jaringan, proses implementasi, hingga dukungan berkelanjutan, semuanya dilakukan dengan komunikasi terbuka, transparansi, dan solusi yang disesuaikan dengan kebutuhan unik setiap pelanggan. Sebagai perusahaan yang mengedepankan teknologi modern dan kepuasan pelanggan, IPNexia melihat penggantian infrastruktur backbone data center sebagai momen yang tepat untuk melakukan peningkatan besar. Tujuannya adalah membangun sistem yang andal, mudah dikembangkan, dan siap menghadapi kebutuhan masa depan, sejalan dengan layanan komunikasi yang mereka berikan. Tantangan yang Dihadapi Saat bersiap memasuki fase pertumbuhan berikutnya, IPNexia menghadapi beberapa tantangan serius pada infrastruktur data center lama mereka, antara lain: Perangkat keras yang sudah end-of-life Perangkat jaringan mendekati akhir masa dukungan, sehingga menimbulkan risiko keamanan dan tidak lagi mendapatkan pembaruan penting. Ketergantungan pada satu vendor (vendor lock-in) Infrastruktur lama membuat IPNexia terikat pada satu vendor, sehingga fleksibilitas rendah dan biaya sulit dikendalikan. Arsitektur jaringan yang sudah ketinggalan zaman Tidak adanya desain spine-leaf modern menyebabkan keterbatasan skalabilitas dan potensi kemacetan lalu lintas data antar server (east-west traffic). Keterbatasan port 100G Kebutuhan bandwidth tinggi tidak dapat dipenuhi dengan optimal, terutama untuk ekspansi di masa depan. Kurangnya kemampuan otomasi dan programmability Infrastruktur lama sulit diintegrasikan dengan platform orkestrasi modern dan pendekatan Infrastructure-as-Code. Migrasi tanpa downtime IPNexia harus memastikan layanan pelanggan tetap berjalan tanpa gangguan selama proses migrasi. Solusi yang Dipilih Bekerja sama dengan Deca Consulting, IPNexia memilih membangun infrastruktur data center yang modern, terbuka, dan sepenuhnya otomatis, menggunakan perangkat Edgecore Networks dengan Enterprise SONiC. Solusi utama yang diterapkan meliputi: Arsitektur spine-leaf berbasis VxLAN EVPN Desain ini menggunakan banyak koneksi 100G untuk menciptakan lalu lintas data yang lancar, scalable, dan bebas bottleneck. Switch Edgecore Enterprise dengan SONiC Dipilih karena pendekatan open networking, stabilitas kelas enterprise, serta kebebasan dari ketergantungan vendor tunggal. Perangkat yang digunakan: Spine Layer: Edgecore AS7726-32X (DCS204) Leaf Layer: Edgecore AS7326-56X (DCS203) Zero Touch Provisioning (ZTP) Pada tahap awal (Day-0), switch baru dapat melakukan instalasi software dan konfigurasi dasar secara otomatis tanpa intervensi manual. Otomasi konfigurasi Day-1 Menggunakan NetBox sebagai sumber data utama (single source of truth), lalu diterjemahkan menjadi konfigurasi jaringan melalui Ansible playbook. Infrastructure-as-Code Seluruh perubahan jaringan dikelola layaknya kode program, sehingga mudah dilacak, diuji, dan dikembalikan (rollback) jika terjadi masalah. Gambaran Perangkat yang Digunakan DCS203 – Edgecore AS7326-56X Switch data center 2 Tbps 48 port 25G + 8 port 100G Cocok untuk data center fabric yang efisien dan terbuka Digunakan sebagai leaf switch DCS204 – Edgecore AS7726-32X Switch data center 3,2 Tbps 32 port 100G Digunakan sebagai spine atau Top-of-Rack Performa tinggi untuk lalu lintas backbone data center Hasil yang Dicapai Setelah implementasi, IPNexia mendapatkan berbagai manfaat nyata: Topologi spine-leaf modern Jaringan 100G non-blocking memberikan performa stabil dengan latensi rendah dan menghilangkan hambatan dari desain lama. Zero-touch provisioning Proses deployment yang sebelumnya memakan waktu berjam-jam kini hanya membutuhkan hitungan menit. Operasional berbasis otomasi Konfigurasi jaringan menjadi konsisten, mudah diaudit, dan terdokumentasi dengan baik. Skalabilitas tinggi Penambahan kapasitas cukup dengan menambah leaf switch tanpa mengganggu layanan yang sudah berjalan. Fondasi kemitraan strategis Kerja sama dengan Edgecore membuka akses dukungan jangka panjang, transfer pengetahuan, dan inovasi platform ke depan. Kesimpulan Dengan mengadopsi solusi open networking berbasis Edgecore dan SONiC, IPNexia berhasil membangun data center yang fleksibel, otomatis, dan siap masa depan. Transformasi ini tidak hanya meningkatkan performa teknis, tetapi juga memperkuat kemampuan IPNexia dalam memberikan layanan komunikasi berkualitas tinggi bagi pelanggan bisnis mereka. Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan edge core indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi edgecore.ilogoindonesia.id untuk informasi lebih lanjut!
Building AI-Optimized Data Center Fabrics: Disaggregation Meets High-Performance Networking
Perkembangan Artificial Intelligence (AI) mendorong perubahan besar pada cara data center dirancang dan dioperasikan. Beban kerja AI, seperti machine learning, deep learning, dan analisis data skala besar, membutuhkan performa komputasi dan jaringan yang jauh lebih tinggi dibandingkan aplikasi tradisional. Di sinilah konsep AI-optimized data center fabrics menjadi sangat penting. Dua pendekatan utama yang kini banyak dibicarakan adalah disaggregation dan high-performance networking. Kombinasi keduanya menjadi fondasi data center modern yang siap menghadapi era AI. Mengapa Data Center Perlu Dioptimalkan untuk AI? Aplikasi AI memproses data dalam jumlah sangat besar dan membutuhkan komunikasi cepat antar server, GPU, storage, dan sistem lainnya. Jika jaringan lambat atau arsitektur data center kaku, performa AI akan turun drastis. Beberapa tantangan utama AI di data center antara lain: Latensi rendah untuk pertukaran data antar node Bandwidth sangat tinggi untuk pemrosesan paralel Skalabilitas untuk menambah resource dengan cepat Efisiensi biaya dan energi Untuk menjawab tantangan tersebut, data center tidak bisa lagi mengandalkan desain lama. Apa Itu Disaggregation dalam Data Center? Disaggregation adalah pendekatan memisahkan komponen data center seperti compute (CPU/GPU), storage, dan network menjadi resource terpisah yang dapat dikelola secara independen. Pada data center tradisional, semua komponen biasanya terikat dalam satu server fisik. Jika salah satu komponen perlu ditingkatkan, sering kali seluruh server harus diganti. Ini mahal dan tidak fleksibel. Dengan disaggregation: GPU bisa ditambahkan tanpa mengganti server Storage dapat diskalakan sesuai kebutuhan Resource dapat dibagi ke berbagai workload AI Pendekatan ini sangat cocok untuk AI karena beban kerja AI sering berubah dan membutuhkan fleksibilitas tinggi. Peran High-Performance Networking Disaggregation hanya akan efektif jika didukung oleh jaringan berperforma tinggi. Ketika compute, storage, dan accelerator dipisahkan, komunikasi antar komponen menjadi sangat intensif. High-performance networking memastikan: Latensi sangat rendah Throughput tinggi Koneksi stabil antar node AI Teknologi jaringan yang sering digunakan antara lain: Ethernet berkecepatan tinggi (100G, 400G, bahkan 800G) RDMA (Remote Direct Memory Access) Fabrics berbasis software-defined networking (SDN) Tanpa jaringan yang cepat, disaggregation justru bisa menjadi bottleneck bagi AI. Apa Itu Data Center Fabric? Data center fabric adalah arsitektur jaringan yang dirancang agar semua perangkat di data center terhubung secara optimal, fleksibel, dan scalable. Berbeda dengan jaringan tradisional yang bertingkat dan kaku, fabric: Memungkinkan komunikasi any-to-any Mengurangi bottleneck Lebih mudah di-scale Untuk AI, fabric sangat penting karena model AI sering berjalan di banyak node secara paralel. Ketika Disaggregation Bertemu High-Performance Networking Kombinasi disaggregation dan high-performance networking menciptakan AI-optimized data center fabric. Keuntungan utama dari kombinasi ini: Skalabilitas tinggi Resource bisa ditambah sesuai kebutuhan AI tanpa gangguan besar. Efisiensi biaya Tidak perlu mengganti seluruh sistem saat upgrade. Performa optimal Jaringan cepat memastikan AI workload berjalan maksimal. Fleksibilitas workload Data center bisa melayani AI training, inference, dan aplikasi lain secara bersamaan. Dengan pendekatan ini, data center menjadi lebih adaptif terhadap kebutuhan AI yang terus berkembang. Dampak bagi Perusahaan dan Organisasi Bagi perusahaan, membangun data center yang dioptimalkan untuk AI bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan. AI digunakan di berbagai sektor seperti: Finansial dan perbankan Kesehatan Manufaktur Ritel Telekomunikasi Data center yang lambat dan tidak fleksibel akan menghambat inovasi AI. Sebaliknya, data center fabric yang modern memungkinkan perusahaan: Mempercepat pengembangan AI Mengurangi time-to-market Meningkatkan efisiensi operasional Tantangan dalam Implementasi Meski menjanjikan, ada beberapa tantangan: Kompleksitas desain dan manajemen Kebutuhan skill baru di bidang jaringan dan AI Investasi awal untuk infrastruktur jaringan berkecepatan tinggi Namun, manfaat jangka panjang biasanya jauh lebih besar dibandingkan tantangannya. Kesimpulan Building AI-Optimized Data Center Fabrics adalah langkah strategis untuk menghadapi masa depan AI. Dengan menggabungkan disaggregation dan high-performance networking, data center menjadi lebih fleksibel, scalable, dan siap mendukung workload AI yang semakin kompleks. Di era di mana AI menjadi inti transformasi digital, data center bukan lagi sekadar tempat menyimpan server, melainkan platform utama untuk inovasi dan keunggulan bisnis. Data center yang dirancang dengan pendekatan ini akan menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan AI di tahun-tahun mendatang. Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan edge core indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi edgecore.ilogoindonesia.id untuk informasi lebih lanjut!
Edgecore Networks Tunjukkan Peningkatan Performa Hingga 35,6% dalam Pengujian Komunikasi AI
Teknologi CAST dari Broadcom terbukti mengurangi kemacetan jaringan pada klaster GPU AMD MI300X Hsinchu, Taiwan – 6 Januari 2026 — Edgecore Networks, penyedia solusi jaringan terbuka (open networking) terkemuka, mengumumkan hasil studi performa bersama dengan mitra teknologi strategisnya. Studi ini menguji teknologi Congestion Aware Sprayed Traffic (CAST) dari Broadcom yang dijalankan pada switch Edgecore AIS800-64O 800G, digunakan dalam klaster GPU AMD MI300X, serta dampaknya terhadap beban kerja komunikasi kolektif pada lingkungan Artificial Intelligence (AI) dan High Performance Computing (HPC). Mengapa Jaringan Sangat Penting untuk AI? Dalam sistem AI modern, terutama untuk pelatihan model besar dan komputasi paralel, banyak GPU harus terus bertukar data dalam jumlah besar dan sangat cepat. Jika jaringan mengalami kemacetan (congestion), maka performa AI akan turun drastis—GPU mahal menjadi menunggu, bukan bekerja. Masalah utama bukan hanya kecepatan link, tetapi bagaimana lalu lintas data dibagi dan diarahkan di dalam jaringan. Apa Itu Teknologi CAST dari Broadcom? CAST (Congestion Aware Sprayed Traffic) adalah teknologi pintar yang mengatur lalu lintas jaringan dengan cara yang lebih cerdas dibanding metode load balancing tradisional. Alih-alih membagi trafik secara statis, CAST: Memantau kondisi jaringan secara real-time Mengukur Round-Trip Time (RTT) atau waktu bolak-balik data Mengarahkan data ke jalur yang paling lancar dan tidak macet Dengan pendekatan ini, data tidak menumpuk di satu jalur saja, sehingga kemacetan dapat dikurangi secara signifikan. Fokus Pengujian: Operasi Komunikasi Kolektif Studi ini berfokus pada empat jenis operasi komunikasi kolektif yang sangat umum digunakan dalam AI dan HPC, khususnya saat banyak GPU bekerja bersama: All-Reduce – menggabungkan data dari semua GPU dan membagikannya kembali All-Gather – setiap GPU mengumpulkan data dari GPU lain Reduce-Scatter – kombinasi pengurangan data dan pembagian hasil All-To-All – setiap GPU bertukar data dengan semua GPU lain Operasi-operasi ini sangat sensitif terhadap performa jaringan. Sedikit kemacetan saja bisa berdampak besar pada waktu pelatihan AI. Tiga Skenario Jaringan yang Diuji Pengujian dilakukan dalam tiga konfigurasi jaringan berbeda: Oversubscribed (2:1) Kapasitas trafik lebih besar dari kapasitas jaringan Non-blocking (1:1) Kapasitas jaringan seimbang Undersubscribed (1:2) Kapasitas jaringan lebih besar dari kebutuhan trafik Hasilnya, CAST memberikan peningkatan performa di semua skenario, yaitu: Oversubscription (2:1): hingga 26,7% lebih cepat Non-blocking (1:1): hingga 35,6% lebih cepat Undersubscription (1:2): hingga 29,8% lebih cepat Ini menunjukkan bahwa CAST bukan hanya efektif di kondisi ideal, tetapi juga di kondisi jaringan yang padat. Peran Edgecore dalam Studi Ini Edgecore Networks berkontribusi melalui keahliannya dalam: Open networking Jaringan Ethernet berkecepatan tinggi Lingkungan RDMA multi-rail (teknologi komunikasi latensi rendah) Selain itu, studi ini menggunakan solusi telemetri dan monitoring SONiC & Broadcom Thor 2 NIC, yang memberikan visibilitas jaringan secara mendalam, termasuk: Konfigurasi jaringan Tingkat pemakaian Suhu perangkat Status kontrol kemacetan seperti PFC dan DCQCN Dengan observabilitas ini, performa jaringan dapat diukur secara akurat dan real-time. Pandangan dari Broadcom dan Edgecore Menurut Karen Schramm, VP Architecture di Broadcom: “Mengatasi kemacetan jaringan adalah hal yang sangat penting untuk jaringan AI. Dengan teknologi CAST, solusi Edgecore mampu membatasi kemacetan dan meningkatkan performa aplikasi AI, sekaligus tetap kompatibel dengan standar RoCEv2.” Sementara itu, Nanda Ravindran, VP PLM Edgecore Networks, menyatakan: “Seiring pesatnya pertumbuhan beban kerja AI, performa dan kepastian jaringan menjadi semakin krusial. Integrasi CAST dengan Enterprise SONiC pada solusi jaringan 800G Edgecore memberikan cara efektif untuk mengurangi kemacetan tanpa mengorbankan kompatibilitas.” Dampak Bisnis dan Teknologi Kolaborasi ini menunjukkan bahwa: Open networking dapat memberikan performa tinggi Optimalisasi jaringan tidak harus mengorbankan standar terbuka Observabilitas dan optimasi sistem secara menyeluruh sangat penting untuk AI skala besar Bagi perusahaan yang membangun AI data center, hasil ini membuktikan bahwa jaringan yang dirancang dengan baik dapat meningkatkan efisiensi GPU secara nyata—tanpa harus mengganti seluruh arsitektur. Tentang Edgecore Networks Edgecore Networks adalah anak perusahaan dari Accton Technology Corporation, salah satu produsen perangkat jaringan terbesar di dunia. Edgecore menyediakan solusi jaringan kabel dan nirkabel untuk berbagai segmen, termasuk AI/ML, data center cloud, service provider, enterprise, dan SMB. Edgecore dikenal sebagai pemimpin di bidang open networking, dengan portofolio lengkap mulai dari WiFi, router, hingga switch data center berkecepatan 1G hingga 800G, yang mendukung sistem operasi jaringan komersial maupun open-source seperti SONiC. Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan edgecore indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi edgecore.ilogoindonesia.id untuk informasi lebih lanjut!
Switch Whitebox Murah yang Terlihat Menguntungkan—Sampai Masuk Tahun Ketiga
Di atas kertas, keputusan ini terlihat sangat jelas. Dua switch jaringan. Menggunakan chip (ASIC) yang sama. Kecepatan port sama. Tapi satu harganya 40% lebih murah. Bagi eksekutif teknis yang terus ditekan anggaran, perbedaan harga seperti ini sangat menggoda. Namun, inilah kenyataan yang jarang dibicarakan pasar: Jika harga berbeda jauh, perangkat tersebut tidak benar-benar sama—meskipun chip-nya sama. Chip switching hanyalah “mesin”. Nilai bisnis jangka panjang sebuah switch ditentukan oleh hal-hal yang tidak terlihat di spesifikasi: kualitas catu daya, pemilihan komponen, desain PCB dan kualitas sinyal, sistem pendingin, konstruksi fisik, kualitas manufaktur, serta kemampuan layanan dan dukungan jangka panjang. Dalam blog ini, kita akan melihat mengapa chip switching hampir tidak menentukan nilai bisnis jangka panjang. Justru area-area di luar spesifikasi inilah yang paling sering dikorbankan untuk mengejar harga murah—dan biasanya tidak disadari oleh pembeli yang hanya melihat spesifikasi. Masalahnya, dampak kompromi ini tidak langsung terasa saat instalasi, tapi akan sangat terasa beberapa tahun kemudian, saat kegagalan meningkat dan biaya operasional melonjak. Kurva Biaya Siklus Hidup: Pembeda yang Sebenarnya Switch murah jarang langsung rusak di awal. Yang terjadi adalah akumulasi stres dari waktu ke waktu: Sistem daya bekerja lebih panas dan menua lebih cepat; komponen analog di power supply perlahan berubah karakteristiknya. Kipas pendingin lebih cepat aus; bantalan rusak, gesekan meningkat, konsumsi daya naik, dan suara makin bising. Kualitas sinyal menurun pada kecepatan tinggi karena desain PCB yang kurang baik dan kontaminasi seiring waktu. Konstruksi mekanik melemah akibat getaran dan colok-cabut kabel berulang, menyebabkan koneksi internal gagal. Masing-masing terlihat kecil. Namun jika digabung, semua ini memperpendek usia pakai, meningkatkan downtime tak terencana, dan memperbesar biaya pemeliharaan. Di tahun ketiga hingga kelima, banyak lingkungan mulai mengalami port sering mati, performa tidak konsisten, dan perilaku aneh antar perangkat yang seharusnya “sama”. Di titik inilah, “penghematan awal” berubah menjadi mimpi buruk. Jelas bahwa tidak semua whitebox dengan chip yang sama itu setara. Downtime Tidak Peduli dengan Penghematan CapEx Di jaringan enterprise modern, core service provider, AI fabric, atau kampus berskala besar, satu switch gagal bisa berdampak luas ke sistem produksi. Fakta yang sudah terbukti selama puluhan tahun: kegagalan daya dan panas tidak memburuk secara perlahan—mereka gagal tiba-tiba, biasanya saat beban tinggi. Saat itu, diskusi biaya langsung berubah dari “harga beli perangkat” menjadi: Seberapa sering dan berapa lama downtime terjadi Penalti SLA dan kebutuhan redundansi tambahan Gangguan operasional dan proses pemulihan Eskalasi ke manajemen dan strategi penggantian Begitu topik-topik ini menjadi rutinitas harian, penghematan saat pembelian langsung terlupakan. Biaya setelah pembelian justru jauh lebih besar dibanding selisih harga awal. Dari sisi risiko operasional, sekali lagi, tidak semua whitebox itu sama. Risiko Penggantian yang Sering Diremehkan Produsen premium memproduksi dalam skala besar dengan rantai pasok yang terkontrol. Produsen murah sering mengganti komponen berdasarkan harga pasar, dengan spesifikasi yang kurang ketat. Dampaknya halus, tapi berbahaya: Unit “model yang sama” bisa berperilaku berbeda karena isi dalamnya berbeda Karakteristik daya dan panas berubah, memicu masalah sementara yang sulit didiagnosis Aliran udara, konsumsi energi, getaran, dan kebisingan meningkat—mempercepat kegagalan Akibatnya, saat Anda mengganti switch rusak dengan unit pengganti garansi, risiko lama tidak hilang—justru diperkenalkan kembali. Lama-kelamaan, jaringan menjadi kumpulan perangkat dengan perilaku berbeda-beda, bukan sistem yang konsisten dan dapat diprediksi. Apa Arti Sebenarnya dari Perbedaan Harga Jika satu switch jauh lebih murah, berarti ada sesuatu yang dikorbankan secara struktural: Power supply: komponen paling krusial dan mahal—sering dipangkas kualitasnya Desain termal: dampaknya jangka panjang, jarang diuji oleh vendor murah Desain PCB: makin kritis di kecepatan 100G, 400G, atau lebih Disiplin manufaktur: konsistensi tinggi itu mahal Kesiapan dukungan jangka panjang: sangat menentukan keandalan jaringan kritikal Semua ini tidak akan Anda temukan di datasheet, tapi akan terlihat jelas di angka kegagalan, siklus penggantian, eskalasi support, dan biaya perbaikan. Inti Pesan untuk Eksekutif Switch premium menang bukan karena terlihat keren, tapi karena membosankan dengan cara yang baik: Keandalan yang dapat diprediksi (usia pakai 7–10 tahun atau lebih) Performa yang konsisten sepanjang waktu Unit pengganti yang benar-benar identik Sistem daya berkualitas tinggi Biaya siklus hidup yang stabil dan dapat direncanakan Inilah yang mengubah perangkat jaringan dari sekadar biaya habis pakai menjadi aset infrastruktur jangka panjang. Kesimpulan: Jika dua switch memakai chip yang sama tapi harganya berbeda jauh, Anda tidak sedang membandingkan produk yang setara. Anda sedang memilih antara hemat jangka pendek atau keberhasilan operasional jangka panjang. Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan edgecore indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi edgecore.ilogoindonesia.id untuk informasi lebih lanjut!
Kolaborasi Edgecore Networks dan Submer Hadirkan Immersion Cooling untuk Datacenter Generasi Baru
Pertumbuhan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI), High Performance Computing (HPC), dan cloud computing mendorong datacenter untuk bekerja semakin keras. Server menjadi lebih padat, konsumsi daya meningkat, dan panas yang dihasilkan jauh lebih besar dibandingkan beberapa tahun lalu. Sayangnya, sistem pendinginan berbasis udara (air cooling) mulai mencapai batas kemampuannya. Untuk menjawab tantangan ini, Edgecore Networks berkolaborasi dengan Submer menghadirkan teknologi immersion cooling, sebuah pendekatan pendinginan datacenter generasi baru yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan siap mendukung workload berkepadatan tinggi. Tantangan Pendinginan Datacenter Modern Datacenter modern menghadapi beberapa tantangan utama: Kepadatan server yang semakin tinggi, terutama untuk AI dan GPU Biaya energi yang meningkat, baik untuk komputasi maupun pendinginan Target keberlanjutan (sustainability) dan pengurangan emisi karbon Keterbatasan ruang fisik untuk menambah kapasitas pendinginan tradisional Sistem pendinginan udara mengandalkan kipas dan aliran udara dingin, yang semakin tidak efisien ketika beban panas meningkat. Selain itu, sistem ini membutuhkan ruang besar dan konsumsi listrik yang tinggi. Apa Itu Immersion Cooling? Immersion cooling adalah metode pendinginan di mana perangkat IT, seperti server dan switch jaringan, dicelupkan langsung ke dalam cairan khusus yang tidak menghantarkan listrik (dielectric fluid). Cairan ini menyerap panas secara langsung dari komponen elektronik, sehingga: Pendinginan menjadi jauh lebih efektif Tidak diperlukan kipas atau pendingin udara konvensional Suhu sistem lebih stabil Risiko hotspot berkurang drastis Teknologi ini sangat cocok untuk datacenter dengan kepadatan tinggi dan workload berat seperti AI dan HPC. Peran Edgecore Networks dalam Kolaborasi Edgecore Networks dikenal sebagai penyedia solusi open networking untuk datacenter modern. Produk Edgecore dirancang untuk fleksibel, terbuka, dan mendukung berbagai arsitektur jaringan. Dalam kolaborasi ini, Edgecore menghadirkan perangkat jaringan yang siap digunakan dalam lingkungan immersion cooling. Artinya, switch dan perangkat jaringan Edgecore telah diuji dan dioptimalkan agar dapat beroperasi secara aman dan stabil di dalam cairan pendingin Submer. Hal ini membuka peluang bagi operator datacenter untuk: Mengintegrasikan jaringan dan komputasi dalam satu sistem pendinginan Meningkatkan performa jaringan tanpa khawatir panas berlebih Menyederhanakan desain infrastruktur datacenter Keunggulan Submer sebagai Mitra Teknologi Submer adalah perusahaan yang fokus pada solusi liquid immersion cooling untuk datacenter. Submer menghadirkan teknologi pendinginan yang dirancang khusus untuk lingkungan berkepadatan tinggi. Keunggulan utama solusi Submer antara lain: Efisiensi pendinginan yang sangat tinggi Desain modular dan mudah diintegrasikan Dukungan untuk berbagai jenis server dan perangkat jaringan Fokus pada efisiensi energi dan keberlanjutan Dengan teknologi Submer, panas dari perangkat IT dapat dikelola secara efektif, bahkan pada beban kerja ekstrem. Manfaat Immersion Cooling untuk Datacenter Generasi Baru Kolaborasi Edgecore Networks dan Submer menghadirkan berbagai manfaat nyata bagi datacenter: 1. Efisiensi Energi Lebih Baik Immersion cooling dapat mengurangi konsumsi energi untuk pendinginan secara signifikan dibandingkan air cooling tradisional. 2. Mendukung Workload Berkepadatan Tinggi Teknologi ini memungkinkan datacenter menjalankan AI, GPU, dan HPC tanpa kendala panas. 3. Mengurangi Jejak Karbon Dengan konsumsi energi yang lebih rendah, emisi karbon datacenter juga dapat ditekan. 4. Keandalan dan Umur Perangkat Lebih Panjang Suhu yang stabil dan minim debu membantu memperpanjang umur perangkat IT. 5. Optimalisasi Ruang Tanpa kebutuhan sistem pendingin udara besar, ruang datacenter dapat dimanfaatkan lebih efisien. Dampak bagi Operator Datacenter dan Bisnis Bagi operator datacenter, solusi ini berarti: Biaya operasional lebih rendah Skalabilitas lebih baik Kesiapan menghadapi kebutuhan AI di masa depan Sementara bagi bisnis, ini berarti: Infrastruktur yang lebih andal Performa aplikasi yang konsisten Dukungan terhadap inisiatif Green IT dan ESG Penutup Kolaborasi antara Edgecore Networks dan Submer menunjukkan arah baru dalam pengembangan datacenter modern. Dengan mengadopsi immersion cooling, datacenter tidak hanya mampu menangani beban kerja berkepadatan tinggi, tetapi juga menjadi lebih efisien dan berkelanjutan. Di era AI dan komputasi intensif, pendinginan bukan lagi sekadar fasilitas pendukung, melainkan komponen strategis. Melalui inovasi ini, Edgecore Networks dan Submer membantu membuka jalan menuju datacenter generasi baru yang lebih dingin, lebih efisien, dan siap menghadapi masa depan. Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan edgecore indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi edgecore.ilogoindonesia.id untuk informasi lebih lanjut!
Kolaborasi Accton/Edgecore, 1Finity, dan Liqid untuk Konektivitas Datacenter All-Photonic Berperforma Tinggi
Kebutuhan datacenter modern terus meningkat seiring berkembangnya teknologi seperti AI, High Performance Computing (HPC), cloud, dan edge computing. Beban kerja semakin berat, data semakin besar, dan latensi menjadi faktor yang sangat krusial. Di sisi lain, arsitektur datacenter tradisional berbasis listrik (electrical-based networking) mulai mencapai batasnya. Untuk menjawab tantangan ini, Accton/Edgecore, 1Finity, dan Liqid berkolaborasi menghadirkan solusi konektivitas datacenter all-photonic yang menawarkan performa tinggi, latensi sangat rendah, serta kemampuan resource sharing lintas rack hingga lintas lokasi secara fleksibel. Kolaborasi ini menjadi langkah penting menuju datacenter generasi baru yang lebih cepat, efisien, dan siap menghadapi kebutuhan masa depan. Apa Itu Datacenter All-Photonic? Secara sederhana, all-photonic datacenter adalah datacenter yang menggunakan teknologi optik (cahaya) sebagai jalur utama konektivitas, bukan lagi sinyal listrik tradisional. Teknologi fotonik memungkinkan: Kecepatan transfer data yang jauh lebih tinggi Latensi yang sangat rendah Konsumsi daya lebih efisien Jarak koneksi yang lebih panjang tanpa penurunan performa Dengan pendekatan ini, komponen komputasi, storage, dan akselerator (seperti GPU) tidak harus berada dalam satu server fisik. Semua sumber daya bisa dihubungkan melalui jaringan optik berkecepatan tinggi. Peran Masing-Masing dalam Kolaborasi Kolaborasi antara Accton/Edgecore, 1Finity, dan Liqid menggabungkan kekuatan dari tiga teknologi utama yang saling melengkapi. 1. Accton/Edgecore – Infrastruktur Jaringan Terbuka Accton dan Edgecore dikenal sebagai penyedia open networking dan hardware jaringan berkinerja tinggi untuk datacenter. Dalam kolaborasi ini, Edgecore menyediakan platform switching dan networking yang siap mendukung konektivitas optik berkecepatan tinggi. Pendekatan open infrastructure memungkinkan fleksibilitas lebih besar bagi operator datacenter, tanpa terkunci pada satu vendor tertentu. 2. 1Finity – Teknologi All-Photonic Switching 1Finity membawa teknologi all-photonic switching, yang memungkinkan koneksi optik langsung antar sumber daya komputasi, bahkan hingga jarak jauh (wide-area). Dengan teknologi ini: Data dapat berpindah antar server atau datacenter tanpa konversi listrik-optik yang berulang Latensi dapat ditekan hingga mendekati nol Resource sharing dapat dilakukan secara real-time Ini sangat penting untuk workload AI dan HPC yang membutuhkan komunikasi super cepat antar node. 3. Liqid – Composable Infrastructure Liqid menghadirkan konsep composable infrastructure, di mana resource seperti CPU, GPU, storage, dan accelerator dapat: Dipisahkan dari server fisik Dikombinasikan secara dinamis sesuai kebutuhan workload Digunakan kembali untuk workload lain setelah selesai Dengan dukungan jaringan all-photonic, composable infrastructure Liqid dapat bekerja lintas rack, bahkan lintas lokasi, tanpa penurunan performa yang signifikan. Mengapa Kolaborasi Ini Penting? Kolaborasi ini menjawab beberapa tantangan utama datacenter modern: 1. Kinerja Tinggi untuk AI dan HPC Workload AI dan HPC membutuhkan bandwidth besar dan latensi sangat rendah. Konektivitas all-photonic memungkinkan GPU, CPU, dan accelerator bekerja seolah-olah berada dalam satu sistem, meskipun secara fisik terpisah. 2. Pemanfaatan Resource yang Lebih Efisien Dengan composable infrastructure, resource tidak lagi terikat pada satu server. Perusahaan dapat mengalokasikan resource sesuai kebutuhan, mengurangi idle capacity dan biaya operasional. 3. Skalabilitas Tanpa Batas Fisik Datacenter tidak lagi dibatasi oleh jarak rack atau gedung. Resource dapat dibagikan secara luas (wide-area resource sharing) dengan performa yang tetap tinggi. 4. Siap untuk Masa Depan Arsitektur all-photonic dan open networking membuat datacenter lebih siap menghadapi teknologi baru tanpa perlu redesign besar-besaran. Dampak bagi Operator dan Bisnis Bagi operator datacenter dan perusahaan, solusi ini memberikan manfaat nyata: Time-to-deploy lebih cepat untuk workload baru Penghematan biaya melalui optimalisasi resource Fleksibilitas tinggi dalam menghadapi perubahan kebutuhan bisnis Daya saing lebih kuat di era AI dan data-intensive computing Alih-alih membangun infrastruktur statis yang mahal, perusahaan dapat bergerak menuju datacenter yang dinamis, adaptif, dan berbasis cahaya. Penutup Kolaborasi antara Accton/Edgecore, 1Finity, dan Liqid menandai langkah besar menuju datacenter all-photonic berperforma tinggi. Dengan menggabungkan open networking, photonic switching, dan composable infrastructure, solusi ini menghadirkan cara baru dalam membangun dan mengelola datacenter modern. Di tengah tuntutan AI, big data, dan komputasi skala besar, pendekatan ini bukan sekadar inovasi teknologi, tetapi fondasi penting untuk datacenter masa depan yang lebih cepat, fleksibel, dan efisien. Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan edgecore indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi edgecore.ilogoindonesia.id untuk informasi lebih lanjut!
Apa Sih “Cognitive Routing”?
Data center sedang memasuki era baru. Permintaan untuk artificial intelligence (AI) dan machine learning (ML) meningkat sangat cepat. Beban kerja AI menghasilkan lalu lintas data yang besar, padat, dan sering muncul secara tiba-tiba (“bursty”). Model jaringan lama sudah tidak cukup lagi. Bahkan sedikit saja keterlambatan jaringan bisa membuat GPU bernilai jutaan dolar menjadi menganggur. Artinya, jaringan tidak bisa lagi sekadar “pipa pasif”. Jaringan harus menjadi pintar, adaptif, dan super cepat dengan latensi sangat kecil. Di sinilah Broadcom mengenalkan chip switch Tomahawk 6. Chip ini sudah lama dibicarakan, dan meski belum dirilis penuh, banyak vendor sudah mulai mendemokannya. Kecepatannya luar biasa—hingga 102.4 Tbps—dan mampu menangani hingga 1024 koneksi 100G dalam satu chip. Tetapi fitur yang paling menarik adalah teknologi baru bernama Cognitive Routing 2.0 (CRv2), yang benar-benar dirancang untuk era AI. Mari kita bahas apa sebenarnya Cognitive Routing dan kenapa ini penting. Apa Itu Cognitive Routing? Cognitive Routing adalah sistem manajemen lalu lintas jaringan yang sangat cerdas dan adaptif. Ibaratnya, setiap paket data seperti mobil di jalan raya, dan Cognitive Routing adalah GPS pintar yang memberi rute terbaik secara real-time. Pada jaringan tradisional (termasuk di Tomahawk 5), rute biasanya statis atau mengikuti algoritma sederhana. Ini bekerja baik untuk aktivitas biasa (email, browsing), tetapi tidak mampu menangani ribuan GPU yang perlu berkomunikasi di waktu bersamaan. Saat AI melakukan proses “collective communication”, lalu lintas data meledak dalam sekejap dan menyebabkan kemacetan. Di jaringan lama, paket yang menumpuk akan memperlambat proses, menyebabkan latency tinggi, paket hilang, retransmisi, dan akhirnya waktu training AI menjadi jauh lebih lama dan mahal. Cognitive Routing 2.0 di Tomahawk 6 mengubah total cara ini bekerja. Chip bisa “berpikir”, menganalisis kondisi jaringan secara langsung, dan memilih jalur terbaik untuk setiap paket. Tomahawk 6 vs Tomahawk 5: Evolusi Kecerdasan Tomahawk 5 adalah chip sangat cepat, tetapi menggunakan cara tradisional dalam menghadapi kemacetan. Ia bereaksi hanya ketika masalah sudah terjadi. Tomahawk 6 memasukkan kecerdasan jauh lebih maju melalui Cognitive Routing 2.0: 1. Dynamic Load Balancing Chip memonitor trafik secara real-time. Jika satu jalur mulai padat, ia otomatis mengarahkan paket ke jalur yang lebih kosong. Mirip seperti membuka lajur tambahan di jalan tol. 2. Predictive Congestion Avoidance Alih-alih menunggu kemacetan terjadi, Tomahawk 6 memprediksinya lebih dulu dan mengalihkan trafik sebelum macet. 3. Visibility yang Sangat Detail Tomahawk 6 memiliki teknologi In-band Network Telemetry (INT) tingkat lanjut. Teknologi ini memberikan informasi detail tentang perjalanan setiap paket. Operator bisa melihat mikro-burst dan latency secara real-time. Ini hampir tidak mungkin dilakukan dengan generasi switch sebelumnya. Kenapa Ini Penting untuk AI? Banyak perusahaan sekarang sadar bahwa data center era x86 tidak cocok untuk AI. Konsumsi daya terlalu besar dan networking lama tidak mampu mendukung skala komunikasi GPU modern. Tujuan utama desain data center AI adalah: menghasilkan token AI seefisien mungkin, menyelesaikan training LLM secepat mungkin, memaksimalkan pemanfaatan GPU, meminimalkan latency dan bottleneck. Tomahawk 6 dan Cognitive Routing 2.0 mendukung ini dengan cara: 1. Mengurangi Tail Latency AI butuh sinkronisasi GPU yang sangat ketat. Jika ada satu jalur yang lambat, seluruh proses bisa terhambat. Cognitive Routing memastikan trafik tetap stabil dan merata. 2. Meningkatkan Throughput Semua jalur jaringan dimanfaatkan optimal. Tidak ada satu link yang padat sementara yang lain kosong. 3. Menjaga Fairness Tidak ada satu aliran besar yang “mendominasi” hingga mengganggu sinyal penting lainnya. Kesimpulan Tomahawk 6 bukan hanya chip yang lebih cepat—ia membawa perubahan besar dalam cara jaringan bekerja. Cognitive Routing 2.0 menjadikannya jaringan untuk era AI, bukan sekadar jaringan yang diberi label “AI-ready”. Dengan kemampuan routing dinamis, prediktif, dan pengamatan mendalam, chip ini memastikan jaringan bisa mengikuti kecepatan GPU modern dan membantu perusahaan mencapai performa AI terbaik. Edgecore/Accton sudah mendemokan switch berbasis Tomahawk 6 sejak pertengahan 2025, dan produk final diperkirakan rilis pada Q1 2026. Dengan pengalaman lebih dari 30 tahun dan menguasai lebih dari 50% pasar whitebox switch global, mereka siap menghadirkan solusi AI networking generasi berikutnya. Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan edgecore indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi edgecore.ilogoindonesia.id untuk informasi lebih lanjut!
Broadcom Tomahawk 6: Mesin Utama di Balik Jaringan AI dan Hyperscale Generasi Terbaru
Saya sudah bekerja di dunia network switching sepanjang karier saya, dimulai dari DEC. Saya bahkan ikut menjadi bagian tim yang memperkenalkan Ethernet ke dunia. Waktu itu, kecepatan 10 Mbps terasa seperti kilat dibandingkan sambungan 56K atau jalur sewaan “T1” yang umum digunakan. Walaupun Ethernet terdengar luar biasa, banyak hal dasar masih harus diselesaikan — seperti bagaimana memindahkan Ethernet dari kabel coax ke twisted pair, atau bagaimana membuat perangkat switch yang lebih efisien dan tidak hanya sekadar repeater. Ketika saya melihat perkembangan hari ini, saya tersenyum. Perjalanan teknologi jaringan sudah sangat jauh, dan sekarang kita sampai pada chipset baru seperti Broadcom Tomahawk 6. Selama bertahun-tahun, merchant silicon Broadcom menjadi tulang punggung jaringan data center dan lingkungan hyperscale di seluruh dunia. Setiap generasi chip Broadcom selalu meningkatkan bandwidth, kapasitas port, dan fitur—memberikan inovasi yang terus mengikuti perkembangan pesat era digital. Pengumuman Tomahawk 6 sebagai chip switching generasi keenam mereka menjadi lompatan besar berikutnya: melampaui batas 100 Tbps dan menjadi fondasi utama untuk infrastruktur AI global. Sebagai perbandingan, 100 Tbps itu lima tingkat lebih besar dari Ethernet pertama era 1978 yang dibuat Intel, DEC, dan Bob Metcalf di Xerox. Perkembangan ini tidak mengejutkan karena dalam satu dekade terakhir, Broadcom secara konsisten menghadirkan performa tinggi dan efisiensi dalam bentuk software-defined silicon. Dulu, chip jaringan bersifat kaku dan harus dibuat ulang jika ada bug atau masalah performa. Broadcom mengubah itu — pipeline dapat diprogram, fitur dapat ditingkatkan, dan elastisitas jaringan jadi jauh lebih tinggi. Di era AI saat ini, dukungan Tomahawk 6 untuk cognitive routing dan ultra Ethernet (lossless) menjadikannya standar baru yang akan dibandingkan dengan semua solusi lain. Bahkan laporan Dell’Oro menunjukkan bahwa permintaan Ethernet untuk backend AI kini melampaui semua teknologi jaringan lainnya. Tomahawk 6: Inovasi Besar yang Membentuk Masa Depan Jaringan Tomahawk 6 bukan hanya chip yang lebih cepat. Ia lahir dari pendekatan ulang total untuk memenuhi kebutuhan AI training dan inference yang semakin ekstrem. Berikut lima peningkatan paling penting: 1. Bandwidth & Kepadatan Port yang Belum Pernah Ada Dengan kapasitas 102,4 Tbps, satu chip bisa menyediakan: 64 port pada 1.6T 128 port pada 800G 256 port pada 400G 512 port pada 200G Bandwidth raksasa ini sangat penting untuk membangun kluster AI besar, tempat ribuan GPU harus bertukar data dengan cepat tanpa bottleneck. 2. Latensi Ultra Rendah untuk Beban Kerja AI/ML Training AI berskala besar sangat sensitif terhadap latensi antar-GPU. Tomahawk 6 menurunkan latensi dengan: pipeline pengolahan paket yang dioptimalkan buffering yang diperkecil cognitive routing manajemen trafik yang lebih cerdas Pengurangan beberapa mikrodetik saja bisa mempercepat waktu training secara signifikan. 3. Manajemen Kemacetan & Flow Control Lebih Canggih AI menghasilkan “elephant flows” — transfer data besar dan terus-menerus. Tomahawk 6 menggunakan: ECN yang lebih baik manajemen buffer cerdas dukungan penuh untuk Ultra-Ethernet Semua ini memastikan data tetap mengalir lembut meski berada dalam beban puncak. 4. Telemetry & Visibility yang Jauh Lebih Mendalam Tomahawk 6 memberi kemampuan pemantauan jaringan real-time yang lebih granular. Operator bisa mendeteksi microburst, anomali, atau masalah performa seketika. Ini penting untuk menjaga kelancaran proses training AI yang biayanya sangat mahal. 5. Pipeline yang Sangat Dapat Diprogram Dengan pipeline yang fleksibel, operator bisa menyesuaikan cara pemrosesan paket, membuat protokol khusus, atau mengoptimalkan jalur data sesuai kebutuhan. Hyperscaler bisa menambahkan inovasi mereka sendiri di atas fondasi Tomahawk 6. Peran Tomahawk 6 dalam Revolusi AI Pembangunan infrastruktur AI global saat ini terjadi begitu cepat. Data center sebesar Manhattan direncanakan, tenaga nuklir kembali dibicarakan, ribuan startup AI bermunculan, dan jaringan permintaan chip melonjak drastis. AI membutuhkan jaringan yang: bandwidth-nya sangat besar latensinya sangat rendah reliabilitasnya tinggi kontrolnya sangat detail Di sinilah Tomahawk 6 bersinar. 1. Skalabilitas AI Supercluster Training model AI modern membutuhkan ribuan GPU. Tomahawk 6 memungkinkan desain jaringan yang sangat datar, bandwidth besar, dan jumlah hop yang minimal. 2. Mendukung Infrastruktur Terdistribusi Saat compute, storage, dan accelerator makin terpisah, Tomahawk 6 menjaga semuanya dapat berkomunikasi secepat kabel fisik (“wire speed”). 3. Future-proof Chip ini software-defined, bukan fixed function. Ketika protokol AI berubah, jaringan tetap relevan tanpa perlu membuat ASIC baru. Kesimpulan Para profesional IT yang besar dengan Ethernet kini memasuki babak baru: jaringan software-defined berperforma ekstrem. Broadcom Tomahawk 6 bukan sekadar chip cepat—ini adalah fondasi untuk generasi AI berikutnya. Dengan bandwidth raksasa, latensi super rendah, dan fitur yang dapat diprogram, ia menjadi komponen penting bagi hyperscaler, enterprise, dan service provider. Dan sebagai penyedia lebih dari setengah solusi whitebox dunia, Accton akan terus memimpin penyediaan infrastruktur open networking berbasis Tomahawk 6 untuk memenuhi kebutuhan jaringan hyperscale masa depan. Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan edgecore indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi edgecore.ilogoindonesia.id untuk informasi lebih lanjut!