Data center sedang memasuki era baru. Permintaan untuk artificial intelligence (AI) dan machine learning (ML) meningkat sangat cepat. Beban kerja AI menghasilkan lalu lintas data yang besar, padat, dan sering muncul secara tiba-tiba (“bursty”). Model jaringan lama sudah tidak cukup lagi. Bahkan sedikit saja keterlambatan jaringan bisa membuat GPU bernilai jutaan dolar menjadi menganggur. Artinya, jaringan tidak bisa lagi sekadar “pipa pasif”. Jaringan harus menjadi pintar, adaptif, dan super cepat dengan latensi sangat kecil.
Di sinilah Broadcom mengenalkan chip switch Tomahawk 6. Chip ini sudah lama dibicarakan, dan meski belum dirilis penuh, banyak vendor sudah mulai mendemokannya. Kecepatannya luar biasa—hingga 102.4 Tbps—dan mampu menangani hingga 1024 koneksi 100G dalam satu chip. Tetapi fitur yang paling menarik adalah teknologi baru bernama Cognitive Routing 2.0 (CRv2), yang benar-benar dirancang untuk era AI.
Mari kita bahas apa sebenarnya Cognitive Routing dan kenapa ini penting.
Apa Itu Cognitive Routing?
Cognitive Routing adalah sistem manajemen lalu lintas jaringan yang sangat cerdas dan adaptif. Ibaratnya, setiap paket data seperti mobil di jalan raya, dan Cognitive Routing adalah GPS pintar yang memberi rute terbaik secara real-time.
Pada jaringan tradisional (termasuk di Tomahawk 5), rute biasanya statis atau mengikuti algoritma sederhana. Ini bekerja baik untuk aktivitas biasa (email, browsing), tetapi tidak mampu menangani ribuan GPU yang perlu berkomunikasi di waktu bersamaan.
Saat AI melakukan proses “collective communication”, lalu lintas data meledak dalam sekejap dan menyebabkan kemacetan. Di jaringan lama, paket yang menumpuk akan memperlambat proses, menyebabkan latency tinggi, paket hilang, retransmisi, dan akhirnya waktu training AI menjadi jauh lebih lama dan mahal.
Cognitive Routing 2.0 di Tomahawk 6 mengubah total cara ini bekerja. Chip bisa “berpikir”, menganalisis kondisi jaringan secara langsung, dan memilih jalur terbaik untuk setiap paket.
Tomahawk 6 vs Tomahawk 5: Evolusi Kecerdasan
Tomahawk 5 adalah chip sangat cepat, tetapi menggunakan cara tradisional dalam menghadapi kemacetan. Ia bereaksi hanya ketika masalah sudah terjadi.
Tomahawk 6 memasukkan kecerdasan jauh lebih maju melalui Cognitive Routing 2.0:
1. Dynamic Load Balancing
Chip memonitor trafik secara real-time. Jika satu jalur mulai padat, ia otomatis mengarahkan paket ke jalur yang lebih kosong. Mirip seperti membuka lajur tambahan di jalan tol.
2. Predictive Congestion Avoidance
Alih-alih menunggu kemacetan terjadi, Tomahawk 6 memprediksinya lebih dulu dan mengalihkan trafik sebelum macet.
3. Visibility yang Sangat Detail
Tomahawk 6 memiliki teknologi In-band Network Telemetry (INT) tingkat lanjut. Teknologi ini memberikan informasi detail tentang perjalanan setiap paket. Operator bisa melihat mikro-burst dan latency secara real-time. Ini hampir tidak mungkin dilakukan dengan generasi switch sebelumnya.
Kenapa Ini Penting untuk AI?
Banyak perusahaan sekarang sadar bahwa data center era x86 tidak cocok untuk AI. Konsumsi daya terlalu besar dan networking lama tidak mampu mendukung skala komunikasi GPU modern.
Tujuan utama desain data center AI adalah:
-
menghasilkan token AI seefisien mungkin,
-
menyelesaikan training LLM secepat mungkin,
-
memaksimalkan pemanfaatan GPU,
-
meminimalkan latency dan bottleneck.
Tomahawk 6 dan Cognitive Routing 2.0 mendukung ini dengan cara:
1. Mengurangi Tail Latency
AI butuh sinkronisasi GPU yang sangat ketat. Jika ada satu jalur yang lambat, seluruh proses bisa terhambat. Cognitive Routing memastikan trafik tetap stabil dan merata.
2. Meningkatkan Throughput
Semua jalur jaringan dimanfaatkan optimal. Tidak ada satu link yang padat sementara yang lain kosong.
3. Menjaga Fairness
Tidak ada satu aliran besar yang “mendominasi” hingga mengganggu sinyal penting lainnya.
Kesimpulan
Tomahawk 6 bukan hanya chip yang lebih cepat—ia membawa perubahan besar dalam cara jaringan bekerja. Cognitive Routing 2.0 menjadikannya jaringan untuk era AI, bukan sekadar jaringan yang diberi label “AI-ready”.
Dengan kemampuan routing dinamis, prediktif, dan pengamatan mendalam, chip ini memastikan jaringan bisa mengikuti kecepatan GPU modern dan membantu perusahaan mencapai performa AI terbaik.
Edgecore/Accton sudah mendemokan switch berbasis Tomahawk 6 sejak pertengahan 2025, dan produk final diperkirakan rilis pada Q1 2026. Dengan pengalaman lebih dari 30 tahun dan menguasai lebih dari 50% pasar whitebox switch global, mereka siap menghadirkan solusi AI networking generasi berikutnya.
Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan edgecore indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.
Hubungi kami sekarang atau kunjungi edgecore.ilogoindonesia.id untuk informasi lebih lanjut!
